Umi dan Mama (Lantibung, Juni-Agustus 2017)

10/08/2017 21:50

Hampir dua bulan aku ada di sebuah desa yang tak pernah terpikir aku akan terkurung didalamnya. Desa Lantibung, Kecamatan Bangkurung, Kabupaten Banggai Laut, Sulawesi Tengah.

Perjalanan yang cukup panjang, 2 kali penerbangan dan 2 kali pelayaran. Mungkin kami adalah satu dari sekian kelompok yang menghabiskan waktu cukup lama dalam perjalanan dibandingkan dengan tim KKN lain.

Kedatanganku bersama rombongan sudah menjelang Maghrib. Koper kami di angkut oleh warga Lantibung hingga sampailah aku di rumah yang akan aku tinggali selama hampir 2 bulan. Rumah Mama Umi. Rumah sederhana dengan 2 orang anggota keluarga, mama dan Umi. Mama merupakan seorang janda dan Umi adalah siswi SMA kelas XI waktu pertama kali aku datang.

Tentu pada awalnya ada kecanggungan diantara kami. Aku dan teman serumahku pun -Tiur- pada awalnya juga canggung. Aku membawakan oleh-oleh dari Jogja yang dibawa Ibuku kepada mama Umi. Mama dengan hangat menerimanya dan mengajak kami untuk makan malam bersama. Aku masih ingat, sup ikan dan bakwan yang kumakan waktu itu. Makanan pertamaku di Lantibung dengan suasana yang hangat.

Ah, mengenangnya membuatku merindukan mama Umi. Setelah makan malam, aku mengajari Umi Fisika karena Umi harus mengikuti remidi Fisika waktu itu. Umi cukup canggung, mungkin merasa aneh karena aku ikut nimbrung ketika ia belajar.

Pada minggu pertama, aku lebih sering bermain ke rumah Mama Uni, tetangga sebelah sekaligus adik mama Umi. Ya, karena disana aku mempunyai teman yang sudah kukenal lebih baik dari yang lain, Candra dan Karina. Mulai minggu ke dua, aku dengan giat mengajak mengobrol mama dan Umi. Mama Umi adalah tipe mama yang cool yang jarang tersenyum sedangkan Umi ramah dan senang bercerita. Minggu kedua pun ku jadikan ajang mendekatkan diri dengan mama Umi, terutama di malam hari. Aku sering mengikuti mama Umi memancing ke dermaga apalagi apabila laut sedang meti (surut). Mama Umi merupakan sosok perempuan yang jago memancing dan hampir semua orang di Lantibung tahu itu. Betapa bangganya aku ikut memancing bersama mama Umi. Kedekatan kami juga semakin bertambah saat awal minggu ketiga.

Aku ingat, saat malam menjelang lebaran, mama Umi mengajakku dan Tiur pergi ke rumah saudaranya, Kak Sari dan Mama Tae. Aku diajari bagaimana membuat brownies dan kue rambutan. Tiur suka sekali dengan kue brownies tersebut sedangkan aku suka dengan kue rambutannya.

Setelah Lebaran, aku dan Tiur sering menyempatkan diri untuk makan bersama mama dan Umi, Bertukar kata dan cerita pun menjadi lebih sering di antara kami, Aku dan Tiur bahkan juga memperlihatkan foto kecil kami dan keluarga kami kepada Umi dan mama hingga listrik mati. Mama dan Umi juga mengajakku dan Tiur melihat kima bersama di laut saat laut sedang meti.

Banyak hal terjadi di rumah mama Umi, aku yang tak sengaja menendang 2 buah gelas dan pecah, ayam yang masuk ke rumah, mama yang sakit, Umi yang sakit, bahkan Tiur yang juga jatuh sakit.

Suka duka hampir 2 bulan aku lewati bersama mereka, Tiur, Umi dan Mama. Seminggu sebelum kepulanganku, mama selalu bertanya, mau oleh-oleh apa. Aku enggan menjawab, karena  pertanyaan itu mengingatkanku bahwa aku harus kembali dan meinggalkan Umi dan mama. Aku hanya mengatakan ke  mama Umi bahwa aku sudah membeli ikan asin di rumah Mecin dan Ubi banggai dari Iga. Mama tidak perlu repot-repot mencarikan oleh-oleh. Namun begitu, mama tetap mencarikan oleh-oleh untuk aku dan Tiur, sibuk mencari kesana kemari ikan pari, kemudian membungkusnya. Mama juga memberikan kami bekal dalam perjalanan pulang kami.

Sedih mengingat kembali saat aku dan Tiur harus pergi meninggalkan mama dari dermaga Lantibung pagi itu. Umi masih sekolah dan mama hanya sendiri di sudut dermaga. Tak kuat rasanya melihat mama menangis sendiri. Tiur memberikan syal untuk mama sedangkan aku hanya bisa memberia=kan pelukan untuk mama. Mama melambaikan tangan kearah kami saat kapal menjauhkan kami dari dermaga. Aku semakin sedih saat menyadari Umi menyusul kami hingga ke Kalupapi agar dapat mengantar kepergianku dan Tiur. Umi, kakak percaya bahwa kamu adalah anak yang kuat, rumah ngga akan sepi karena kamu punya mama dan mama punya kamu. Kamu harus kuliah, jangan tinggalin mama, bawa mama saat kamu kuliah. Ingat, kamu punya kakak di Jawa yang selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu dan mama.