Thursday, February 27 2014

27/02/2014 22:52

Aku sadar satu hal hari ini setelah konsultasi siswa sama Bu Susi dan Bu Mamik. Bukan tentang aku, tapi tentang mereka..

Pilihan jurusan, ya, aku udah ngga terlalu mikirin itu sih karena aku udah pasti mau masuk teknik elektro jalur SNMPTN dan coba SBMPTN Kedokteran

Aku ngga masalah, meskipun orangtua memang ngga setuju aku masuk teknik elektro, itu ngga masalah. Aku punya pendirianku sendiri bahwa di Elektro aku bisa.. anggap aja berpenghasilan cukup dan menurutku menjanjikan. Kebayang kan masa depan pasti bergantung banget sama listrik. Masa sekarang aja kalau mati lampu udah pada berhenti semua kerjaan. (Ini mind-set ku supaya aku lebih percaya diri) meskipun kalau aku boleh jujur, aku ngga suka teknik apalagi bagian mesin2 begituan. Yang aku suka adalah UPI Pendidikan luar biasa buat anak-anak yang ngga biasa. Atau pendidikan guru, atau psikologi yang belakangan aku baru sadar kalau aku cocok disitu. Tapi itu sosial, dan itu engga menjanjikan.

Aku harus kerja. Aku mau masa tua orangtuaku itu bahagia. Ngga perlu kerja dan hanya perlu enak-enakan dirumah. Itu yang aku mau. Dan kalau aku egois pilih jurusan apa yang aku suka, lalu orangtuaku gimana? Mbak Ike kerjanya PNS, mbak Yuyun keperawatan. Dan adikku, mungkin desain interior atau bisnis, tapi itu masih lama... So, tentu aja pilihannya ada di aku. Kedokteran? Aku mau, tapi aku tahu kalau aku ngga bakal keterima dengan nilai raporku yang begitu.

 

Kupikir cuma aku yang terbebani, ternyata itu salah besar.

Vina, ayahnya dokter, ibunya, anggap aja kepala rumah sakit. Dia punya rumah sakit. Dan tentu aja, benar-benar beban yang berat untuk dia, dituntut masuk kedokteran. Dia terbebani dengan nama orangtuanya.. Aku sedih, maksudku, aku ngga mau dia terbebani sampai frustasi seperti tadi. Aku mau dia seceria yang dulu. Jujur aja Vin, memang bebanmu itu berat banget.

Vidya. Dia memang udah dapet cadangan di UMY, tapi tentu aja biayanya akan sangat besar ketika kamu milih swasta. Dia ngga mau orangtuanya menghabiskan uang mereka untuknya padahal ia masih punya adik yang juga masih harus sekolah.

Fia, mungkin orangtuanya engga memaksanya masuk kedokteran secara langsung, tapi secara tersirat semua anggota keluarganya beharap. Berharap. Harapan keluarga.

Jasmine yang sampai sekarang ngga tau mau masuk mana..

Mungky, Syifa...

 

Satu-satu dari kami, punya masalah masing-masing.

Kami, yang seharusnya tenang dan mempersiapkan diri untuk UN, malah memikirkan suatu hal yang jauh kedepan yang membuat kami panik, frustasi, terbebani.

 

Aku selalu meyakini satu hal, dimanapun aku ditempatkan, aku tahu itu yang terbaik untukku. Aku tau, ada hal yang menurutku itu baik tapi ternyata engga baik menurut-Nya, dan ada hal yang terkadang menurutku buruk, tapi itulah yang terbaik untukku dari-Nya. Intinya adalah, aku tau siapa yang pegang masa depanku. 

Hubunganku dengan-Nya memang pasang-surut. Tapi aku tau, Dia ngga akan pernah tinggain. Sekarang ini kesempatanku untuk lebih giat lagi cari Dia.